Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar para pendusta.
Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah. Sesungguhnya apa yang selalu mereka kerjakan itu sangatlah buruk.
Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan (kutukan) ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman) agar Rasulullah memohonkan ampunan bagimu,” mereka membuang muka dan engkau melihat mereka menolak (ajakan itu) sambil menyombongkan diri.
Sama saja bagi mereka apakah engkau (Nabi Muhammad) memohonkan ampunan untuk mereka atau tidak, Allah tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum fasik.
Merekalah orang-orang yang berkata (kepada kaum Ansar), “Janganlah bersedekah kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah),” padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengerti.
Mereka berkata, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (dari perang Bani Mustaliq), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana,” padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui.
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.
Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.”
Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
PANDUAN BACA
Panduan warna tajwid
Warna pada kartu mengikuti penanda yang tampil di pembaca ini. Gunakan sebagai pengingat singkat; ketepatan makhraj dan panjang bacaan tetap perlu dipelajari langsung bersama guru Al-Qur’an.
Ghunnah
Ditandai saat: Nun atau mim bertasydid.
Cara baca: Dengungkan dengan tenang selama kira-kira dua harakat.
وَمِنَ النَّاسِ
Contoh Al-Baqarah 2:8
Idgham bighunnah
Ditandai saat: Nun mati atau tanwin bertemu ي، ن، م، atau و pada dua kata.
Cara baca: Leburkan ke huruf sesudahnya sambil mendengung kira-kira dua harakat.
هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ
Contoh Al-Baqarah 2:5
Idgham bilaghunnah
Ditandai saat: Nun mati atau tanwin bertemu ل atau ر pada dua kata.
Cara baca: Leburkan ke huruf sesudahnya tanpa dengung.
هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
Contoh Al-Baqarah 2:2
Iqlab
Ditandai saat: Nun mati atau tanwin bertemu ب.
Cara baca: Ubah bunyi nun atau tanwin menjadi mim yang samar, lalu dengungkan kira-kira dua harakat.
مِنْۢ بَعْدِ
Contoh Al-Baqarah 2:27
Ikhfa
Ditandai saat: Nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf ikhfa.
Cara baca: Sembunyikan bunyi nun atau tanwin di antara izhar dan idgham, dengan dengung kira-kira dua harakat.
يُنْفِقُوْنَ
Contoh Al-Baqarah 2:3
Ikhfa syafawi
Ditandai saat: Mim mati bertemu ب.
Cara baca: Samarankan mim dengan bibir tetap rapat secara ringan dan dengungkan kira-kira dua harakat.
هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ
Contoh Al-Baqarah 2:8
Idgham mimi
Ditandai saat: Mim mati bertemu mim.
Cara baca: Leburkan kedua mim dan dengungkan kira-kira dua harakat.
قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ
Contoh Al-Baqarah 2:10
Qalqalah
Ditandai saat: Salah satu huruf ق، ط، ب، ج، atau د dalam keadaan sukun; juga dapat muncul saat waqaf di akhir ayat.
Cara baca: Pantulkan suara huruf dengan ringan tanpa menambah harakat. Kekuatan pantulan mengikuti posisi bacaan dan waqaf.